Total Tayangan Halaman

Minggu, 16 Januari 2011

Kisah Sebuah Kacamata

Suatu hari,seorang tukang kayu sedang membuat sebuah peti yang digunakan untuk mengirim batuan pakaian dari gerejanya dari sebuah panti asuhan di China. Dalam perjalanan pulang ke rumah, dia mencari kacamata di kantongnya, tetapi dia tidak menemukannya.


Ketika dia mencoba mengingatnya kembali,dia tersadar kalau kacamatanya telah terjatuh dan masuk ke dalam salah satu peti yang dibuatnya dan peti itu sudah dipaku dengan kuat. Dan lebih parah lagi, kacamatanya yang baru dibeli itu, terkirim bersama baju-baju itu ke China.


Tukang kayu itu merasa sangat sedih dan mengalami depresi. Saat itu dia memiliki 6 orang anak. Dia sudah menabung untuk kacamata senilai USD 20 itu setiap hari. Dia sedih mengingat harus membeli sebuah lagi.


"Ini tidak adil," dia berbicara kepada Allah saat perjalanan menuju rumah dengan frustasi. "Aku sudah beriman memberikan waktu dan uang untuk pekerjaanMu, dan sekrang hasilnya seperti ini."


Beberapa bulan kemudian, sang misionaris, pemimpin dari panti asuhan di China sedang berlibur dan berada di Amerika Serikat. Dia ingin mengunjungi gereja yang telah membantunya selama berada di China untuk berterima kasih. Suatu kali tiba gilirannya ia berbicara di gereja kecil tempat sang tukang kayu itu di kota Chicago.


Misionaris tersebut mengawali dengan ucapan terima kasih untuk iman dalam membantu panti asuhan. "Tetapi, dari semuanya," dia mengatakan, "Saya harus berterima kasih untuk sebuah kacamata yang dikirim tahun lalu, Anda tahu, komunis telah membersihkan panti asuhan, mereka merusak semuanya, termasuk kacamata saya. Saya sangat putus asa. Walaupun saya memiliki uang, tetapi tidak dapat membeli yang baru."


"Karena tidak dapat melihat dengan jelas, saya sering mengalami sakit kepala setiap hari. Jadi saya dengan staf secara sehati berdoa untuk ini. Dan ketika peti kiriman datang, saat staf saya membuka tutupnya, mereka menemukan sebuah kacamata ada di posisi paling atas!"


Si misionaris berdiam cukup lama, dan melanjutkan ceritanya. "Saudaraku, saat saya mencoba meemakai kacamata itu, sepertinya ini memang buat saya! Saya ingin berterima kasih pada anda yang telah menjadi bagian dalam pelayanan ini."


Orang-orang yang mendengarkan begitu gembira pada mujizat kacamata tersebut. Tetapi bagi sang misionaris, ini terasa aneh, karena kacamata tidak ada dalam list pengiriman. Dengan duduk diam, dan air mata mengalir di wajahnya, seorang tukang kayu biasa yang sedang duduk mendengarkan kesaksian itu, kini menyadari bahwa Allah telah memakai dirinya dengan cara yang ajaib.


Pernahkah Anda mengalami situasi seperti kisah diatas?


Seringkali kita menyalahkan Tuhan karena suatu kejadian yang merugikan kita. Tak seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi pada hari esok atau bahkan satu jam atau satu menit ke depan.


Karenanya, ucapkan syukur atas apapun yang kita alami. Mungkin di balik kejadian yang menjengkelkan itu, ada rencana Tuhan yang ada di luar pemikiran kita. Mungkin Tuhan sedang memakai kita untuk menjadi saluran berkatNya bagi orang lain tanpa kita sadari.


Bersyukurlah selalu untuk apapun juga.

Sabtu, 08 Januari 2011

Muffin Coklat yang Yummiiyyy

Bahan Muffin Coklat :
100 g margarin/mentega
100 g gula pasir
2 butir telur ayam
100 g tepung terigu
1/2 sdt baking powder
100 g cokelat masak, lelehkan
50 g cokelat masak, cincang


Cara membuat Muffin Coklat :
  •  Kocok margarin dan gula hingga lembut dan kental.
  •  Masukkan telur satu per satu sambil kocok hingga rata.
  •  Tambahkan tepung terigu dan baking powder. Aduk rata.
  •  Tuangi cokelat leleh, aduk rata.
  •  Tambahkan cokelat cincang, aduk rata.
  •  Tuang ke dalam loyang muffin. Ratakan.
  •  Panggang dalam oven panas 180 C selama 20 menit hingga matang.
  •  Angkat, dinginkan.

Hanya cukuk untuk 8 buah muffin cantikk yaa :D